[itb ku] hatta rajasa dan ia itb

Pemilihan Ketua Umum PAN semakin dekat, rencana Konggres Partai Amanat Nasional yang salah satu agendanya adalah pemilihan Ketua Umum yang baru akan diselenggarakan pada 8 – 10 Januari 2010. Salah satu kandidat ketua umum ini yang diperkirakan mendapatkan banyak dukungan adalah Hatta Rajasa.

Pencalonan Hatta Rajasaini menuai suatu kontroversi sendiri, hal ini disebabkan adanya rangkap jabatan apabila Hatta Rajasa berhasil memenangkan pencalonan ini, maka sebagai Menko Perekonomian yang bertanggung jawab mengkoordinasikan 14 menteri yang terkait dengan masalah perekonomian ini akan mempunyai tanggung jawab tambahan lagi sebagai seorang Ketua partai, dan tentunya ini sama sekali bukan tanggung jawab yang ringan. Disamping kedua jabatan tersebut, kita mengentahui bersama bahwa saat ini Hatta Rajasa juga masih menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni ITB sampai tahun 2011.

Mengenai Rangkap Jabatan Menteri, hal ini sudah diatur dalam pasal 23 Undang undang no 39 tahun 2008 mengenai Kementrian Negara, dimana pasal ini berbunyi:

Pasal 23

Menteri dilarang merangkap jabatan sebagai:

a. pejabat negara lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

b. komisaris atau direksi pada perusahaan negara atau perusahaan swasta; atau

c. pimpinan organisasi yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.

Pada kenyataannya pasal ini banyak dilanggar oleh beberapa Menteri yang saat ini masih resmi menjadi anggota Kabinet yang bertugas, antara lain adalah: Muhaimin Iskandar dan Suryadharma Ali. Dan sepertinya akan diikuti pula oleh Hatta Rajasa (apabila terpilih menjadi Ketua Umum Partai Amanat Nasional)

Secara hukum, Undang – undang no 39 tahun 2008 tersebut memang tidak melarang adanya rangkap jabatan dengan organisasi yang tidak menerima anggaran dari APBN dan APBD, demikian pula AD ART IA ITB juga tidak melarang atau mengatur adanya rangkap jabatan. Ikatan Alumni ITB dalam beberapa periode belakangan ini memang banyak dipimpin oleh tokoh atau pemimpin yang juga mempunyai jabatan politik atau jabatan pemerintahan.

Permasalah utama adalah bukan masalah aspek hukumnya, karena memang memungkinkan seorang Ketua Ikatan Alumni ITB mempunyai jabatan rangkap dan hal ini sama sekali tidak melanggar ketentuan AD ART yang merupakan dasar dari pengaturan suatu organisasi. Tapi hal ini menyangkut masalah kepatutan dari hal tersebut.

Seandainya Hatta Rajasa berhasil memenangkan pemilihan ketua umum Partai Amanat Nasional, berarti di saat yang bersamaan Hatta Rajasa menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II yang mengkoordinasikan 14 orang menteri yang terkait dengan masalah Perekonomian, Ketua Umum Partai Amanat Nasional dan juga Ketua Umum Ikatan Alumni ITB. Suatu tanggung jawab yang sangat berat, mengingat saat ini Presiden SBY menempatkan perbaikan ekonomi menjadi prioritas utama dalam kerja Kabinet Indonesia Bersatu II setidaknya untuk periode tahun 2010 ini.

Dengan melihat tanggung jawab yang begitu besar sebagai Pejabat Pemerintahan, dan kemudian juga harus memimpin Partai Amanat Nasional (apabila menang dalam pemilihan Ketua Umum), rasanya menjadi hal yang sungguh sulit bagi Hatta Rajasa untuk memenuhi janji dan komitmen terhadap Ikatan Alumni ITB, yang antara lain adalah:

1. Dalam 100 hari program kerjanya mampu berkontribusi mendatangkan kesejahteraan bagi alumni termasuk bekerja sama dengan universitas. Konsep kemitraan melalui perluasan jejaring riset dan pengembangan kampus lewat peranan alumni menjadi andalannya. Juga mendorong kewirausahaan bagi alumni lewat modal ventura

(http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/18/daerah/4012259.htm)

2. Misi dan Viisi Hatta Rajasa dalam kampanye Pemilu Ketua Iakatan Alumni ITB . “Saatnya kita berbuat, dari alumni untuk bangsa,” begitu tagline kampanye Hatta. (kompas 17/11/2007)

3. Cita-cita Hatta membawa alamamaternya menjadi institusi taraf dunia dituangkan kedalam visi sebagai calon ketua IA ITB yakni IA ITB menjadi organisasi yang mengangkat martabat dan peran alumni ITB sebagai motor pembangun bangsa dan pendukung nyata tercapainya sasaran ITB menjadi universitas riset kelas dunia yang dihormati. Visi ini kemudian dijabarkan kedalam poin-poin misi, yang antara lain adalah (1). Membentuk IA menjadi wadah (tempat berkumpul) dan bersinerginya para alumni, (2). Menjadi motivator bagi alumni agar berkreasi, (3). Menjadi komunikator secara lateral dan vertikal, membangun networking bagi alumni serta sebagai (4). Fasilitator agar kreasi, gagasan dan karya alumni dapat diwujudkan secara nyata.

[28/10/2007] bertempat di Hotel Bumi Sawunggaling, acara diskusi bertajuk “Kontribusi IA ITB untuk Kemajuan Penelitian di ITB”. Diskusi ini terselenggara atas prakarsa Mensekneg RI Hatta Radjasa (TA ‘69) sebagai sosialisasi pencalonan dirinya sebagai kandidat ketua Ikatan Alumni ITB

4. Berawal dari pemikiran tersebut, Hatta terpanggil untuk berkontribusi memajukan almamaternya. Kesibukannya sebagai Mensekneg RI dan juga Presiden ICMI bukan halangan untuk menjadi ketua IA ITB Ia berkomitmen meluangkan sehari dalam satu minggu untuk concern memikirkan ikatan alumni.

[28/10/2007] bertempat di Hotel Bumi Sawunggaling, acara diskusi bertajuk “Kontribusi IA ITB untuk Kemajuan Penelitian di ITB”. Diskusi ini terselenggara atas prakarsa Mensekneg RI Hatta Radjasa (TA ‘69) sebagai sosialisasi pencalonan dirinya sebagai kandidat ketua Ikatan Alumni ITB

5. Program Kerja – Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB 2007 – 2011

Bidang Organisasi

– Penguatan Organisasi

– Penyempurnaan AD/ART dan Kongres Luar Biasa

– Penguatan Tatanan Organisasi

– Networking dan Kerjasama Organisasi

Bidang Hubungan Almamater

– Pengembangan Infrastruktur ITB Manara ITB dan memfasilitasi pembangunan ITB Technopark

– Manajemen Kemitraaan IA dan ITB untuk mencapai World Class University

– Road to Nobel Prizes

Bidang Pelayanan dan Hubungan Alumni

– Menjadikan web IA-ITB.COM sebagai ‘frequent-browsed-site’ bagi alumni.

– Pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan database alumni

– Pelaksanaan Program SIA Ware

– Pembangunan Pusat Pengembangan Karir (Career Center) Alumni.

– Mengadakan Career Day

Bidang Bisnis dan Teknopreneur

– Pelatihan Teknopreneur Training Programme setiap 6 bulan.

– Menyelenggarakan Pertemuan Bisnis secara berkala

– Pembuatan Business Directory Alumni ITB

– Membantu pengembangan usaha alumni melalui penyaluran modal Ventura

Bidang Kemitraan

– IA-ITB Information Centre for Science, Technology and Arts

– Smart Villages

– Road to Nobleprize Research Grant

– Pembuatan Buku dan Multimedia Seni Budaya

– Pameran Produk Kreatif

– Membentuk Lembaga Dompet Alumni ITB

– Qurban di Daerah Terpencil (Qurdacil) atau daerah miskin

– Program “IA-ITB Tanggap”

Dari janji dan komitmen yang pernah diucapkan tersebut diatas sepertinya bukan hal yang mudah bagi Hatta Rajasa untuk merealisasikan hal tersebut dengan rangkap jabatan sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang mana saat ini Perekonomian menjadi prioritas utama bagi Presiden SBY dan juga jabatan sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional.

Mengapa tidak mudah?, hal ini bisa kita bersama lihat bahwa setelah Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni ITB yang diselenggarakan pada tanggal 17 November 2007 (lebih dari 2 tahun yang lalu) apakah yang telah terjadi:

(i) Apakah yang dicapai dalam 100 hari pertama? (apakah target yang telah ditentukan berhasil dicapai?)

(ii) Pada saat ini kepemimpinan Hatta Rajasa memimpin Ikatan Alumni ITB telah mencapai lebih dari separuh waktu (2007 – 2011), apakah Program Kerja yang telah ditetapkan berhasil tercapai setidaknya untuk progress 50% ?

(iii) Meluangkan waktu 1 hari dalam seminggu untuk memikirkan atau concern untuk Ikatan Alumni ITB ?

(iv) Komitmen Hatta Rajasa bahwa Saatnya bertidak dari alumni untuk bangsa, bagaimana realisasi hal ini?

Hal – hal tersebut diatas bukanlah dimaksudkan untuk memojokkan Hatta Rajasa dalam memimpin Ikatan Alumni ITB, tapi kita semua sebagai alumni ITB juga harus realistis bahwa hal tersebut sulit dicapai oleh Hatta Rajasa apabila menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan dan juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional. Sedang dalam posisi tidak rangkap jabatan saja, masih menjadi tanda tanya terhadap target yang seharusnya sudah dicapai.

Sehingga adanya harapan bahwa Ikatan Alumni ITB akan tetap bisa berjalan sesuai program dengan adanya rangkap jabatan sebagai Menteri Koordinator Perekonomian dan Ketua Partai yang sekiranya akan disandang oleh Hatta Rajasa, adalah hal yang kemungkinan terjadinya adalah kecil, sehingga pertanyaan mengenai kepatutan hal ini dapat secara obyektif terjawab bahwa hal ini Tidak Patut terjadi.

Dan jalan terbaik adalah Hatta Rajasa memberikan kesempatan kepada alumni ITB lainnya untuk memimpin Ikatan Alumni ITB ini, hal ini bukan berarti menutup kesempatan bagi Hatta Rajasa untuk berkontribusi memajukan Ikatan Alumni ITB, karena ini adalah kewajiban setiap insan alumni ITB.

Semoga hal ini juga bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi alumni ITB untuk bisa lebih dewasa memilih pemimpinnya dengan tidak memberikan tanggung jawab lebih bagi para pemimpin negara untuk juga bertanggung jawab memimpin Ikatan Alumni ITB yang tercinta ini. Karena tentunya kita sama sekali tidak berharap bahwa jabatan Ketua Ikatan Alumni ITB menjadi jabatan yang sifatnya hanya jabatan prestise saja, melainkan memang kita berkehendak Ikatan Alumni ITB dipimpin oleh pemimpin yang bertidak, berkarya dan bisa memimpin alumni ITB untuk menghasilkan karya-karya untuk bangsa.

Vivat IA ITB

Explore posts in the same categories: my concern

Tags: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

3 Comments on “[itb ku] hatta rajasa dan ia itb”

  1. Bambang SLN Says:

    Bung Reza, secara legal (AD/ART) memang tidak ada larangan seorang Ketua IA ITB merangkap jabatan, tetapi ketika jabatan lain yang dirangkap adalah jabatan Ketua Partai, rasanya jadi mengkhawatirkan. Kita tahu dari sejak dulu ITB selalu mengedepankan Independensi dan Obyektivitas, sehingga politik aliran di kampus ganesha ini tidak pernah laku. Dari mulai HMI, GMNI, GMKI, dlsb tidak pernah bisa eksis di kampus kita karena sepertinya ada code of conduct bahwa sifat aktivisme mahasiswa ITB adalah independent dan bebas dari politik aliran.
    Nah jika Bung HR sebagai ketua IA juga merangkap sebagai ketua partai, apakah independensi ini masih bisa terjaga, kita semua tahu bahwa Partai adalah organisasi yang mewadahi kepentingan tertentu, dengan aliran tertentu sehingga disebut sebagai Partai. Apakah seorang HR mampu menjaga independensi dia sementara secara kasat mata sudah jelas dia mewakili suatu golongan kepentingan tertentu.
    Alangkah eloknya jika Bung HR secara sukarela mengundurkan diri sebagai ketua IA demi menjaga keutuhan dan nama besar IA ITB, saya percaya sebagai pemimpin Bung HR mampu melihat dengan jernih permasalahan ini
    Salam
    Bambang SLN

    • rizanovara Says:

      setuju banget….
      cuman memang ruangnya adalah masalah kepatutan atau tidak, karena secara legal tidak melanggar. Ataukah sebaiknya kita merevisi ad/art untuk mengakomodasikan variabel ini?

  2. Maximillian Says:

    [Sedang dalam posisi tidak rangkap jabatan saja, masih menjadi tanda tanya terhadap target yang seharusnya sudah dicapai.]

    Sebenarnya, kalau dirunut sedari awal, dari mulai musim kampanye, indikasi untuk terjadi perangkapan jabatan, oleh beliau, sudah terlihat. Tetapi, pertanyaan sebenarnya dari saya adalah, sebenarnya, seberapa signifikan institusi IA ITB sendiri dalam mengakomodasi potensi dari anggotanya, yaitu alumni ITB ? Akan dibawa kemana potensi,dari berbagai sumber yang berbeda itu, untuk berkontribusi ke warga negara Indonesia ?

    Saya agak curiga, bahwa sebenarnya, posisi Ketua IA ITB sebenarnya dipakai bukan untuk mengakomodasi kepentingan anggota, melainkan ada tujuan lain, semisal : Kendaraan Politik, dalam pemerintahan negara Indonesia ?

    [ Karena tentunya kita sama sekali tidak berharap bahwa jabatan Ketua Ikatan Alumni ITB menjadi jabatan yang sifatnya hanya jabatan prestise saja, melainkan memang kita berkehendak Ikatan Alumni ITB dipimpin oleh pemimpin yang bertidak, berkarya dan bisa memimpin alumni ITB untuk menghasilkan karya-karya untuk bangsa.]

    Sepakat. Hanya, keadaan mendadak berubah drastis saat tensi tinggi pemilu IA terjadi.Sebelum Pemilu IA 2007, banyak alumni yang mengeluh dengan gaya Laks, tetapi, anehnya, saat pemilu berikutnya, kesalahan yang sama terulang lagi.

    Saat tensi tinggi, adu kepentingan yang terjadi, dan suara anggota hilang😦

    Salam kenal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: